Selasa, 08 November 2016

Adab Bertamu dalam Islam

๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ
Bismillaahirrohmaanirrohiim

๐ŸŽBunda-bunda solihat..
Suka main rumah-rumahan ngga, dengan buah hatinya?
Atau mungkin pernah mengajak ananda bertamu ke rumah teman, saudara atau orang baru..

Nah sebagai bahan pengingat atas adab-adab bertamu
kami sajikan tema diskusi kita hari ini yakni:
                                                             ๐ŸŒž๐Ÿ™๐ŸผADAB BERTAMU DALAM ISLAM ๐Ÿ™๐Ÿผ๐ŸŒž                    

๐Ÿ€๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒพ๐Ÿ€
Assalamualaikum.. Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam raya yang putarkan waktu sesui dengan porosnya.                                  Yang sudah sempurnakan nikmat sehat, nikmat iman dan nikmat tetap berislam dipagi hari ini. Tentang saling berkunjung dan bertamu di antara kita adalah hal yang biasa terjadi. Baik bertamu di antara sanak famili, dengan tetangga, atau teman sebaya yang tinggal di kos. Namun, banyak di antara kita yang melupakan atau belum mengetahui adab-adab dalam bertamu, dimana syari’at Islam yang lengkap telah memiliki tuntunan tersendiri dalam hal ini. Nah, alangkah indahnya jika setiap yang kita lakukan kita niatkan ibadah kepada Allah ta’ala dan ittiba’ pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk dalam hal adab bertamu ini.

1. Minta Izin Maksimal Tiga Kali
⛳3⃣
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita, bahwa batasan untuk meminta izin untuk bertamu adalah tiga kali. Sebagaimana dalam sabdanya,

ุนู† ุฃุจู‰ ู…ูˆุณู‰ ุงู„ุงุดุนุฑูŠّ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู…ู‡ ู‚ุงู„: ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ّู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู…: ุงู„ุงุณุชุฆุฐุงู†ُ ุซู„ุงุซٌ، ูุงู† ุฃุฐู† ู„ูƒ ูˆ ุงู„ุงّ ูุงุฑุฌุน

Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!'” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Mengucapkan Salam & Minta Izin Masuk
๐ŸŽ†๐ŸŽ‡
Terkadang seseorang bertamu dengan memanggil-manggil nama yang hendak ditemui atau dengan kata-kata sekedarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan, hendaknya seseorang ketika bertamu memberikan salam dan meminta izin untuk masuk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ู„َุง ุชَุฏْุฎُู„ُูˆุง ุจُูŠُูˆุชًุง ุบَูŠْุฑَ ุจُูŠُูˆุชِูƒُู…ْ ุญَุชَّู‰ ุชَุณْุชَุฃْู†ِุณُูˆุง ูˆَุชُุณَู„ِّู…ُูˆุง ุนَู„َู‰ ุฃَู‡ْู„ِู‡َุง ุฐَู„ِูƒُู…ْ ุฎَูŠْุฑٌ ู„َูƒُู…ْ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَุฐَّูƒَّุฑُูˆู†َ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur [24]: 27)

Sebagaimana juga terdapat dalam hadits dari Kildah ibn al-Hambal radhiallahu’anhu, ia berkata,

“Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keluar dan ulangi lagi dengan mengucapkan ‘assalamu’alaikum’, boleh aku masuk?'” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi berkata: Hadits Hasan)

Dalam hal ini (memberi salam dan minta izin), sesuai dengan poin pertama, maka batasannya adalah tiga kali. Maksudnya adalah, jika kita telah memberi salam tiga kali namun tidak ada jawaban atau tidak diizinkan, maka itu berarti kita harus menunda kunjungan kita kali itu. Adapun ketika salam kita telah dijawab, bukan berarti kita dapat membuka pintu kemudian masuk begitu saja atau jika pintu telah terbuka, bukan berarti kita dapat langsung masuk. Mintalah izin untuk masuk dan tunggulah izin dari sang pemilik rumah untuk memasuki rumahnya. Hal ini disebabkan, sangat dimungkinkan jika seseorang langsung masuk, maka ‘aib atau hal yang tidak diinginkan untuk dilihat belum sempat ditutupi oleh sang pemilik rumah. Sebagaimana diriwayatkan dari Sahal ibn Sa’ad radhiallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุงِู†ّู…ุง ุฌُุนู„ ุงู„ุงุณุชุฆุฐุงู† ู…ู† ุฃุฌู„ ุงู„ุจุตุฑ

“Sesungguhnya disyari’atkan minta izin adalah karena untuk menjaga pandangan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan konteks bertamu di dalam Qs.An Nur 59. Bertamu berlaku pula bagi anak2 yang sudah umur baligh apabila mereka ingin masuk ke kamar orang tuanya pada waktu2 ygditentukan.

ูˆَุฅِุฐَุง ุจَู„َุบَ ุงู„ْุฃَุทْูَุงู„ُ ู…ِู†ْูƒُู…ُ ุงู„ْุญُู„ُู…َ ูَู„ْูŠَุณْุชَุฃْุฐِู†ُูˆุง ูƒَู…َุง ุงุณْุชَุฃْุฐَู†َ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِู‡ِู…ْ ۚ ูƒَุฐَٰู„ِูƒَ ูŠُุจَูŠِّู†ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„َูƒُู…ْ ุขูŠَุงุชِู‡ِ ۗ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„ِูŠู…ٌ ุญَูƒِูŠู…ٌ

Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.24:59

3. Ketukan Yang Tidak Mengganggu
๐Ÿ”จ๐Ÿ”จ
Sering kali ketukan yang diberikan seorang tamu berlebihan sehingga mengganggu pemilik rumah. Baik karena kerasnya atau cara mengetuknya. Maka, hendaknya ketukan itu adalah ketukan yang sekedarnya dan bukan ketukan yang mengganggu seperti ketukan keras yang mungkin mengagetkan atau sengaja ditujukan untuk membangunkan pemilik rumah. Sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu,

ุฅู† ุฃุจูˆุงุจ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุงู†ุช ุชู‚ุฑุน ุจุงู„ุฃุธุงููŠุฑ

“Kami di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod bab Mengetuk Pintu)

4. Posisi Berdiri Tidak Menghadap Pintu Masuk
๐ŸŽ
Hendaknya posisi berdiri tamu tidak di depan pintu dan menghadap ke dalam ruangan. Poin ini juga berkaitan hak sang pemilik rumah untuk mempersiapkan dirinya dan rumahnya dalam menerima tamu. Sehingga dalam posisi demikian, apa yang ada di dalam rumah tidak langsung terlihat oleh tamu sebelum diizinkan oleh pemilik rumah. Sebagaimana amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abdullah bin Bisyr ia berkata,

ูƒุงู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฅุฐุง ุฃุชู‰ ุจุงุจ ู‚ูˆู… ู„ู… ูŠุณุชู‚ุจู„ ุงู„ุจุงุจ ู…ู† ุชู„ู‚ุงุก ูˆ ุฌู‡ู‡ ูˆ ู„ูƒู† ุฑูƒู†ู‡ุง ุงู„ุฃูŠู…ู† ุฃูˆ ุงู„ุฃูŠุณุฑ ูˆ ูŠู‚ูˆู„ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู…

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan assalamu’alaikum… assalamu’alaikum…” (HR. Abu Dawud, shohih – lihat majalah Al-Furqon)

5. Tidak Mengintip
๐Ÿ‘€
Mengintip ke dalam rumah sering terjadi ketika seseorang penasaran apakah ada orang di dalam rumah atau tidak. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencela perbuatan ini dan memberi ancaman kepada para pengintip, sebagaimana dalam sabdanya,

ู„ูˆ ุฃู†ّ ุงู…ุฑุฃ ุงุทู„ุน ุนู„ูŠูƒ ุจุบูŠุฑ ุฅุฐู† ูุฎุฐูุชู‡ ุจุญุตุงุฉ ููู‚ุฃุช ุนูŠู†ู‡ ู„ู… ูŠูƒู† ุนู„ูŠูƒ ุฌู†ุงุญ

“Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.” (HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan)

ุนَู†ْ ุฃَู†َุณِ ุจْู†ِ ู…َุงู„ِูƒ ุฃَู†َّ ุฑَุฌُู„ًุง ุงุทَّู„َุนَ ู…ِู†ْ ุจَุนْุถِ ุญُุฌَุฑِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَู‚َุงู…َ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِู…ِุดْู‚َุตٍ ุฃَูˆْ ุจِู…َุดَุงู‚ِุตَ ูَูƒَุฃَู†ِّูŠ ุฃَู†ْุธُุฑُ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ูŠَุฎْุชِู„ُ ุงู„ุฑَّุฌُู„َ ู„ِูŠَุทْุนُู†َู‡ُ

“Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu sesungguhnya ada seorang laki-laki mengintip sebagian kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu nabi berdiri menuju kepadanya dengan membawa anak panah yang lebar atau beberapa anak panah yang lebar, dan seakan-akan aku melihat beliau menanti peluang ntuk menusuk orang itu.” (HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan)

6. Pulang Kembali Jika Disuruh Pulang
๐Ÿƒ๐Ÿป๐Ÿƒ๐Ÿป๐Ÿšถ
Kita harus menunda kunjungan atau dengan kata lain pulang kembali ketika setelah tiga kali salam tidak di jawab atau pemilik rumah menyuruh kita untuk pulang kembali. Sehingga jika seorang tamu disuruh pulang, hendaknya ia tidak tersinggung atau merasa dilecehkan karena hal ini termasuk adab yang penuh hikmah dalam syari’at Islam. Di antara hikmahnya adalah hal ini demi menjaga hak-hak pemilik rumah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ูَุฅِู†ْ ู„َู…ْ ุชَุฌِุฏُูˆุง ูِูŠู‡َุง ุฃَุญَุฏًุง ูَู„َุง ุชَุฏْุฎُู„ُูˆู‡َุง ุญَุชَّู‰ ูŠُุคْุฐَู†َ ู„َูƒُู…ْ ูˆَุฅِู†ْ ู‚ِูŠู„َ ู„َูƒُู…ُ ุงุฑْุฌِุนُูˆุง ูَุงุฑْุฌِุนُูˆุง ู‡ُูˆَ ุฃَุฒْูƒَู‰ ู„َูƒُู…ْ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู…َุง ุชَุนْู…َู„ُูˆู†َ ุนَู„ِูŠู…ٌ

“Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nuur [24]: 28)

Makna ayat tersebut disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, “Mengapa demikian? Karena meminta izin sebelum masuk rumah itu berkenaan dengan penggunaan hak orang lain. Oleh karena itu, tuan rumah berhak menerima atau menolak tamu.” Syaikh Abdur Rahman bin Nasir As Sa’di dalam Tafsir Al Karimur Rahman menambahkan, “Jika kamu di suruh kembali, maka kembalilah. Jangan memaksa ingin masuk, dan jangan marah. Karena tuan rumah bukan menolak hak yang wajib bagimu wahai tamu, tetapi dia ingin berbuat kebaikan. Terserah dia, karena itu haknya mengizinkan masuk atau tidak. Jangan ada perasaan dan tuduhan bahwa tuan rumah ini angkuh dan sombong sekali.” Oleh karena itu, kelanjutan makna ayat “Kembali itu lebih bersih bagimu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Artinya supaya hendaknya seorang tamu tidak berburuk sangka atau sakit hati kepada tuan rumah jika tidak diizinkan masuk, karena Allah-lah yang Maha Tahu kemaslahatan hamba-Nya. (Majalah Al Furqon).

7. Menjawab Dengan Nama Jelas Jika Pemilik Rumah Bertanya “Siapa?”
๐Ÿ“ข๐Ÿ“ฃ
Terkadang pemilik rumah ingin mengetahui dari dalam rumah siapakah tamu yang datang sehingga bertanya, “Siapa?” Maka hendaknya seorang tamu tidak menjawab dengan “saya” atau “aku” atau yang semacamnya, tetapi sebutkan nama dengan jelas. Sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Jabir radhiallahu’anhu, dia berkata,

ุฃَุชَูŠْุชُ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูِูŠ ุฏَูŠْู†ٍ ูƒَุงู†َ ุนَู„َู‰ ุฃَุจِูŠ ูَุฏَู‚َู‚ْุชُ ุงู„ْุจَุงุจَ ูَู‚َุงู„َ ู…َู†ْ ุฐَุง ูَู‚ُู„ْุชُ ุฃَู†َุง ูَู‚َุงู„َ ุฃَู†َุง ุฃَู†َุง ูƒَุฃَู†َّู‡ُ ูƒَุฑِู‡َู‡َุง

“Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku mengetuk pintu, lalu beliau bertanya, ‘Siapa?’ Maka Aku menjawab, ‘Saya.’ Lalu beliau bertanya, ‘Saya, saya?’ Sepertinya beliau tidak suka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
๐ŸŽฏ
Demikianlah beberapa poin yang perlu kita perhatikan agar apa yang kita lakukan ketika bertamu pun sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mengetahui adab-adab yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga membuat kita lebih lapang kepada saudara kita sebagai tuan rumah ketika ia menjalankan apa yang menjadi haknya sebagai pemilik rumah. Wallahu a’lam.

๐Ÿ“šMaraji’:

Majalah Al Furqon edisi 2 Tahun II 1423 H
Terjemah Riyadush Shalihin, takhrij Syaikh M. Nashiruddin Al Albani jilid 2. Imam Nawawi. Cetakan Duta Ilmu. 2003
Adabul Mufrod. Imam Bukhari. Maktabah Syamilah

๐Ÿ€๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒพ๐Ÿ€
Sumber:
✔Artikel www.muslimah.or.id

✔http://m.voa-islam.com/news/tsaqofah/2011/05/07/14558/keutamaan-mengunjungi-orang-sakit/;

Tim Tema Harian Diskusi HSMN Pusat
HSMN.timtemadiskusi@gmail.com

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
๐Ÿ”…๐Ÿ”†๐Ÿ”…๐Ÿ”†hsmn๐Ÿ”†๐Ÿ”…๐Ÿ”†๐Ÿ”…
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
๐Ÿ‘ฅfacebook.com/hsmuslimnusantara
๐Ÿ‘ฅFB: HSMuslimNusantara pusat
๐Ÿ“ท instagram: @hsmuslimnusantara
๐Ÿค twitter: @hs_muslim_n
๐ŸŒ web: hsmuslimnusantara.org

๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ

๐ŸŒ…๐Ÿ 
Baiklah Bunda2 yang budiman..demikian pengingat akhlaq hari ini..

Bagaimana pengalaman Bunda di rumah? Ketika bertamu dengan sang buah hati?
Bagaimana cara bunda menerangkan adab-adab bertamu ini kepada sang buah hati? Apakah dalam bermain peran? Ataukah dengan cerita?

yuk.. kita diskusikan...
saling berbagi ilmu dan hikmah yang telah Alloh beri...


SELAMAT MEMBIMBING ANANDA.. SEMANGAT MENERAPKAN ADAB DALAM KESEHARIAN!

Semoga ananda menjadi semakin  shalih shalihah..dan qurrota ’ayyun..

Salam mujahaddah dari kami

Berikanlah Hak Anak-Anak Kita, Sebelum Tiba Masa Wajibnya

Kulwapp 23 Agustus 3016
Group HEbat Nasional

Berikanlah Hak Anak-Anak Kita, Sebelum Tiba Masa Wajibnya
By.
๐Ÿ‘คUstad Adriano Rusfi, M.Psi

Sungguh surga itu mahal, sementara umur yang tersedia rasanya tak cukup untuk menghimpun seluruh modal untuk membelinya. Ya, jangankan untuk membeli surga, bahkan sekadar untuk membayar setiap tetes karunia Allah di dunia, telah terkuras seluruh pahala keshalehan.

Untungnya Allah Yang Maha Pengasih memfasilitasi kita tiga amal lintas masa, yang buahnya ternikmati walau badan berkalang tanah : Shadaqah yang berdampak panjang, ilmu yang terus dimanfaatkan, dan buah hati shaleh yang selalu Zen.

Hari ini saya akan bicara tentang yang ketiga : anak shaleh yang mendoakan. Inilah investasi akhirat kita. Merekalah yang membuat asa kita tetap terjaga akan indahnya hidup sesudah mati. Di tangan keshalehan merekalah kita masih bisa mengumpulkan harta untuk kita belanjakan membeli surga. Namun doa anak shaleh itu ada syaratnya : bahwa kita, ayah dan bundanya sekaligus, mendidik mereka diwaktu kecil... Kamaa rabbayaanii shaghiiraa...

Ayahbunda... kata “rabbayaa...” maknanya bukan semata-mata menyayangi dan mengasihi, tapi mendidik, mentarbiyyah. Dan dilakukan oleh keduanya : ayah dan bunda. Ayahbunda... sungguh buah dari mendidik anak itu sangat manis : do’a lisan shaleh yang berbuah surga. Maka, korbankanlah apapun agar mampu mendidik mereka. Lupakanlah kegemilangan karir agar tersedia cukup waktu mengasuh mereka. Jangan tergoda gelimang harta jika itu menjauhkan tangan kita untuk memeluk mereka berlama-lama.

Anak-anak belia kita adalah makhluk-makhluk kecil tak berdaya di hadapan ayahbundanya. Ia belum tahu hak dan kewajibannya. Dan atas titah ayahbundanya, iapun belum sanggup menolak dan menyanggahnya.

Maka adalah tanggung jawab kita, para ayahbunda, untuk melindungi hak-haknya, membentenginya dari penzaliman, dan menjauhinya dari pembebanan sebelum waktunya, walau atas nama pendidikan

Takutlah akan suatu hari, dimana anak-anak kita akan mengadu kepada Tuhannya atas hak-haknya yang dirampas di kala belia, atau pewajiban oleh manusia atas sesuatu yang Tuhannya tak mewajibkannya.

1⃣.Salam ustadz, saya Farda di Gresik
Membersamai tumbuh kembang anak adalah keniscayaan apalagi semasa kecil sbg prasyarat doa anak shalih. Bgmn menurut Ustadz, strategi apa yg peelu dilakukan saat sepanjang waktu kehidupan bersamaan saat mengasuh sikecil kita juga harus mencari penghidupan, dan terus berbenah meningkatkan kualitas diri? Disaat yang bersamaan sepanjang usia
๐Ÿ‘คUst Aad
Bu Farda dari Gresik
Ketika kita harus mencari penghidupan saat si kecil sedang tumbuh kembang, mari kita lakukan beberapa hal berikut :

Pertama, prioritaskan pendidikan anak, bukan penghidupan. Lupakan jenjang karir, target bisnis, peningkatan pendapatan dsb. Yang penting penghasilan kita cukup untuk hidup memadai

Kedua, doronglah peran ayah/suami untuk lebih optimal dalam mencari nafkah, karena rejeki istri, anak dan orangtua telah Allah titipkan ke rekening suami/ayah. Jangan sampai kurang optimalnya seorang suami dalam mencari nafkah terpaksa menyeret istri untuk ikut mencari nafkah. Sehingga pendidikan anak terlantar.

Ketika, mari kita lebih smart/cerdik/efisien dalam mencari nafkah. Jika selama ini kita butuh waktu 8 jam sehari dalam mencari nafkah, mari kita ikhtiarkan untuk 6 jam saja, misalnya.

Keempat, jangan terlalu memisahkan antara mendidik anak dan mencari nafkah. Kalau bisa disatukan, kenapa tidak. Mendidik sambil mencari nafkah, dan mencari nafkah sambil mendidik anak adalah hal yang bisa dilakukan ✅

2⃣Nina - jember
Saya seorang ibu satu anak yg sedang galau antara melepas karir sebagai PNS yg sudah di idamkan ortu saya dulu dan mengasuh putri saya yg berumur 2 tahun dan saat ini saya titipkan ke pembantu di rumah. Suami setuju saya resign tapi ortu tidak setuju jika saya resign. Sementara klo saya pulang kerja sudah lelah bahkan kadang pulang malam dan dinas luar kota, sehingga waktu saya dgn putri saya terbatas. Mohon solusinya ustadz. ๐Ÿ™๐Ÿป
๐Ÿ‘ค Ust Aad
Bu Nina di Jember.
Ketika suami ibu setuju ibu resign, sedangkan ortu tak setuju, maka yang harus diikuti adalah suami. Begitulah Islam mengajarkan.

Insya Allah tak akan berkurang rejeki ibu, keluarga dan orangtua ketika ibu resign. Karena, ketika ibu menikah dengan suami ibu, Allah telah memindahkan rejeki ibu dari rekening ortu ke rekening suami.

Insya Allah suami akan lebih fokus dan tenang mencari nafkah ketika ibu juga fokus dalam mendidik anak. Sebenarnya fokus kita dalam bekerja akan terbagi ketika kita titipkan anak kita kepada orang lain, sehingga kerja dan karir kita menjadi tak optimal.

Satu lagi Bu, senang dan ridhanya anak kita ketika kita langsung mengasuh mereka adalah doa yang akan sampai ke langit, sehingga akan Allah lapangkan rejeki kita untuk membesarkannya. ✅

⃣ Bunda Yanti dari Purbalingga
Assalamu'alaikum ustad....
Anak sy yg kedua umur 10 th, saat ini blm bs sholat dg kesadaran sendiri, masih kami suruh suruh dan jawabnya nanti-nanti, gak langsung sholat.

Giliran pas sholat, sholatnya expres,cepet sekaliii... Bagaimana ya ustad agar anak mau sholat dg kesadaran sendiri....
Terima kasih...๐Ÿ™๐Ÿป
๐Ÿ‘ค U. Aad: Bunda Yanti dari Purbalingga, pada dasarnya shalat adalah beban (taklif), sehingga nggak ada orang yang aslinya rela melakukan shalat dengan kesadaran, termasuk kita sendiri saat kecil dulu.

Shalat adalah ibadah yang "useless". Hanya iman yang mampu menyebabkan seseorang ikhlas melaksanakan shalat. Itulah sebabnya kenapa di akhirat kelak yang diperiksa pertama kali adalah shalat

Untuk itu bangunlah iman anak ibu. Tanamkan kecintaan dan keridhaannya pada Allah, Islam dan Rasulullah SAW. Ingat-ingatkan ia dengan kasih sayang, karunia dan rahmat Allah atas dirinya selama ini. Jadikan shalat itu sebagai tanda syukurnya kepada Allah.

Saat anak ibu menghadapi masalah, sakit, berkurangnya karunia dsb., ingatkan pula dia bahwa boleh jadi masalah itu muncul karena iapun malas beribadah dan bersyukur pada Allah.

Bunda Yanti, shalat adalah ekspresi iman yang sebenarnya. Malasnya seseorang mengerjakan shalat adalah pertanda iman yang belum kuat dalam dirinya. Selama ini kita begitu rajinnya menyuruh anak shalat, tapi lalai menumbuhkan iman dalam dirinya.

Saya rasa, apa yang ibu alami terhadap anak ibu juga dialami oleh ibu-ibu lainnya. Sekali lagi, penyebabnya adalah :

"Kita gemar menyuruh shalat, namun tak gemar menumbuhkan iman" ✅

⃣ Bunda Arum dari Cilacap
Ustadz, bisa tolong dijelaskan contoh konkrit dari hak2 anak2 yg dapat kita rampas di kala belia atau pewajiban oleh manusia atas sesuatu yg Tuhannya tak mewajibkannya?
Terima kasih ๐Ÿ™�๐Ÿ˜Š
๐Ÿ‘คUstadz Aad
Banyak sekali, Bunda Arum dari Cilacap. Terutama saat anak belum berusia 7 tahun, saat anak belum mumayyiz

Misalnya, mewajibkannya menutup aurat, mengharuskannya menghafalkan AlQur'an, memarahinya saat tak mau ke masjid, melarangnya memakai bando ke luar rumah, mengharuskannya berpuasa, sekolah yang mewajibkan shalat dhuha dsb.

Padahal, pada usia sebelum 7 tahun, jangankan diharuskan, diajarkan kewajiban-kewajiban syar'ie pun belum.

Tak selalu segalanya lebih cepat lebih baik. Karena yang paling baik adalah yang tepat waktu dan sesuai ajaran Allah dan RasulNya.

Betapa banyaknya anak-anak yang belakangan jadi pembenci agama gara-gara pengambilan hak dan pemberian kewajiban sebelum waktunya.

Mari kita ingat pesan Rasulullah SAW berikut ini :

"Wahai Fulan, janganlah agama ini menjadi dibenci orang gara-gara perbuatanmu" (Hadits) ✅

5⃣ Bunda Noni dari Tangerang
Assalamu'alaikum wr wb...
Ustad Aad, terimakasih sudah diberikan kesempatan untuk bertanya...

Ustad, saat ini mungkin kami lah sebagai orangtua yang perlu banyak2 mendoakan anak2 kita di tengah derasnya ujian dunia. Berdoa untuk kebaikan dan keselamatan anak2 kita di dunia dan akhirat kelak. Maka dimulai dari manakah kita mengajarkan berdoa yang bukan maksudnya sekedar mengajarkan anak kita dengan doa keseharian tapi doa2 penuh makna untuk kedua orangtuanya kelak... ?
Bekal apa yang perlu orangtua berikan selain pendidik dan menyayangi untuk anaknya supaya menjadi anak yang Sholeh/hah...?

๐Ÿ‘ค U. Aad: Wa alaikumus salam wr wb.
Bunda Noni dari Tangerang. Mengajarkan anak-anak rajin berdoa dimulai dari kebiasaan para orangtua untuk berdoa.

Untuk itu mari kita mulai dengan membiasakan diri berdoa untuk SEGALA HAL yang kita inginkan, hajatkan dan harapkan. Bacalah doa itu dengan keras, sehingga terdengar oleh anak-anak kita.

Lalu, ajarkan anak untuk meminta kepada Allah terlebih dahulu APAPUN kebaikan yang ia inginkan. Bahkan sekadar minta makan, minta buku, minta mainan dsb.

jadikanlah keluarga kita sebagai keluarga yang CEREWET dalam berdoa. Apapun kita doakan kepada Allah, bahkan hal sangat sepele sekalipun. Buktikan bahwa HANYA kepada Allah kita memohon.

Tapi, siapakan orang yang cerewet berdoa kepada Allah ?

Hanya orang-orang yang mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allahlah yang "berani" cerewet berdoa kepada Allah. Orang yang kurang dekat dengan Allah akan sungkan, risih, kagok dan tersendat dalam berdoa kepada Allah.

Jadi, jika kita ingin anak kita rajin berdoa kepada Allah, dekatkan mereka dengan Allah ✅

6⃣Bunda Tien Trisnawati, Jogja
Assalamualaikum Anak adalah amanah Allah yang harus kita jaga dengan baik,namun disisi lain kita mencari ridhonya suami untuk istri mengamalkan ilmu yang didapat dengan mengabdi disebuah lembaga sekolah.Dengan prinsip ketika kita berjuang diagamanya Allah anak anak kita akan dijaga dengan Allah.
๐Ÿ‘ค Ustadz Aad
Wa alaikumus salam

Bunda Tien dari Jogja. Tentunya berjuang menegakkan agama Allah memiliki skala prioritas. Agar kita tak menegakkan yang satu dan meruntuhkan yang lainnya.

Maka dalam konteks skala prioritas ini, mendidik anak sendiri lebih prioritas daripada mendidik anak orang lain. Bukankah setuap anak juga memiliki ayahbunda yang bertanggung jawab dalam mendidiknya ?

Tentang berjuang di agama Allah, saya punya cerita nih :

Dulu guru saya minta saya berdakwah ke luar pulau, padahal saya harus belajar untuk ujian. Lalu guru saya mengingatkan saya :

"Berdakwahlah di jalan Allah. Niscaya Allah akan menolongmu saat ujian"

Maka sayapun berangkat dakwah dan melupakan belajar. Hasilnya ? Saya mendapatkan nilai E

Kenapa ? Karena saya melupakan sunnatullah : jika ingin mengerti, belajarlah.

Oleh karenanya, Bunda Tien, prioritas ibu adalah mendidik anak sendiri. Jika masih ada waktu, silakan mendidik anak lain di sekolah ✅

7⃣ April - Situbondo
Asslamualaikum ustadz.
Disampaikan dalam materi bahwa proses pendidikan,tarbiyah anak merupakan amanah ayah dan ibunya, keduanya. Bagaimana strategi yg harusnya kami terapkan dlm menjalankan amanah tersebut ustdz, sementara kondisi ayah berjauhan dan hanya seminggu sekali berkumpul. Agar tidak terjatuhi hukum lalai/dzalim terhadap amanah.
Jazakumullah khairan

▶ ust Aad
Wa alaikumus salam.
April di Situbondo. Kesibukan seorang ayah dalam mencari nafkah bukanlah penghalang baginya dalam melaksanakan tanggung jawabnya dalam mendidik anak.

Peran ayah dalam mendidik anak adalah sebagai penanggung jawab, bukan sebagai pelaksana harian. Pelaksana harian pendidikan anak adalah ibu. Oleh karenanya, tugas ayah adalah memberikan arahan, panduan dan strategi pendidikan anak kepada ibunya.

Untuk itu, dalam kesibukan apapun, sediakanlah selalu waktu untuk istri curhat, berkonsultasi dan meminta arahan kepada suami tentang permasalahan anak di rumah. Jika suami abai dalam hal ini, maka dia telah lalai dan zalim terhadap amanahnya.

Selain itu, dengan banyaknya media komunikasi saat ini, optimalkanlah media tersebut untuk bertegur sapa, memberikan nasihat, menyampaikan pesan dengan istri dan anak. Tanyakanlah kabarnya, studinya, keinginannya dsb.

Bahkan kalau perlu jadikanlah pekerjaan kita justru sebagai alah komunikasi dan pendidikan dengan anak anak. Saya pribadi malah sering berbagi pekerjaan dengan anak-anak saya, sekaligus sebagai sarana anak-anak dalam mencari nafkah.

Ketika pulang ke rumah, jangan lupa membawakan oleh-oleh untuk anak, yang sesuai dengan kepribadian, perkembangan, selera dan kebutuhannya. inipun merupakan pendidikan ✅

Atas semua pertanyaan di atas, saya ingin memberikan kesimpulan umum :
Awalilah segala jenis pendidikan dengan pendidikan iman dan aqidah, iman dan aqidah yang akan mendekatkan anak-anak kita kepada Allah. Insya Allah selanjutnya akan mudah ✅

Alhamdulillah, kesimpulannya kembali kita di ingatkan tentang pentingnya iman dan aqidah untuk kita semua.

Aybun... Sepertinya masih belum cukup yah waktu yang singkat ini untuk membahas tema kita malam ini. Mohon maaf karena keterbatasan waktu tidak semua pertanyaan bisa didiskusikan di grup. ๐Ÿ™๐Ÿป

Jazzakumullah untuk semua atensi dan partisipasi ayah bunda di kulwap kita kali.

Semoga ilmu yang kita peroleh dalam diskusi kita ini bermanfaat dan bisa diamalkan.

Kita tutup diskusi kita malam kni dgn doa kafaratul majlis.

ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِูƒَ, ุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ, ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُูƒَ ูˆَุฃَุชُูˆْุจُ ุฅِู„َูŠْูƒَ.

(Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.) Kecuali telah diampuni baginya apa yang ada pada majlis tersebut. " (HR Tirmidzi)

Mohon maaf apabila saya selaku host malam ini ada salah dan khilaf. ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿป
Wassalamualaikum wr wb...⁠⁠⁠⁠

RESUME KULWAP GRUP HEBAT NASIONAL
HARI : SELASA
TGL : 23 AGUSTUS 2016
WAKTU : 19.00-21.00
NARASUMBER : UST.ADRIANO RUSFI
MODERATOR : BUNDA DINI NASUTION, AYAH IGO, BUNDA RITA

Komunikasi Produktif, Pijakan Penting dalam Pendidikan Keluarga

Resume webinar bunda sayang#1

Komunikasi Produktif, Pijakan Penting dalam Pendidikan Keluarga


SUKSES = ABNORMALITY

Ibu sebagai pengemban amanah:

Ilmu pendidikan anak dan keluargaPeningkatan kualitas diri sebagai individu, ibu dan istri

Apa yang biasa dilakukan ibu-ibu kebanyakan, kita berikan nilai tambah.

Jika normalnya ibu merupakan seorang yang multitasking, maka jadilah ibu yang memprioritaskan 1 tujuan utama. Semisal, pilih antara :

▪ANAK YANG BENAR-BENAR TERDIDIK  ( ✔)
▪SAJIAN MAKANAN YANG SELALU SEGAR SETIAP SAAT   (    )
▪RUMAH YANG SELALU RAPI  (    )

Investasikan waktu untuk belajar -->  BONUS WAKTU

Orang lain tidak belajar mendidik anak, kita BELAJAR --> BEDA

HUKUM PARETO 80:20

80 = yang dilakukan oleh kebanyakan orang.
20 = abnormal positif dan negatif. Jika kita lakukan abnormal positif (10), maka akan sukses melebihi yang lain.

Hasil adalah hak Allah. Tugas kita adalah MELAKUKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH.

MENTAL WARRIOR

Mr. Ah Bad. Setiap kita beraktivitas, dicari2 sisi negatifnya.

Mr. Cold Water. Dingin dg aktivitas kita. Apatis. Responnya membuat kita tidak bersemangat.

Mr. Lose Lose. Menyerah dengan keadaan.

Ketiga orang ini ada di sekitar kita atau bahkan di DALAM DIRI KITA. SELESAIKAN

REMEMBER :

FOR THINGS TO CHANGE, I MUST CHANGE FIRST

Buat perbandingan diri kita sekarang dengan diri kita yang dulu, bukan membandingkan diri dengan orang lain. Pun juga dengan keluarga dan anak.

PROBLEM = CHALLENGE. Membiasakan diri untuk menguatkan diri

CHOOSE YOUR WORDS

Words represent the way you think. Kata-kata akan menunjukkan bagaimana jalan pikiran kita.Words brings energy. Kata-kata akan membawa energi. Jika kita bicara masalah, maka aura kita akan mengisyaratkan jatuh. Jika mengatakan tantangan, mata akan berbinar dan semangat menyelesaikan.Words = You. Kata-kata mencerminkan kepribadian kita.

PROTECT YOURSELF

SWITCH! Sesuatu yang ada di diri kita tidak akan dapat berjalan jika tidak dikatakan.

CANCEL CANCEL GO AWAY!

Mengingat suatu hal yang menyedihkan/membuat trauma, akan membuat semakin sedih. Harus dihentikan, diganti dengan hal-hal yang menyenangkan bagi diri kita.

THE MAGIC COMMUNICATION

Fokus pada solusi, bukan pada masalah. Misal, anak memecahkan gelas kesayangan kita. Jika anak tersebut membawa gelas lagi, katakan hati-hati, suruh fokus dan konsentrasi. Bukan dengan mengingatkannya kembali dengan kesalahannya yang dulu. Jangan-jangan nanti jatuh lagi, gagal lagi. Komunikasi produktif ibu akan menguatkan kepercayaan diri anak.Ganti TIDAK BISA menjadi BISA. Tidak ada kegagalan, yang ada hanya hasil yang salah.Katakan apa yang kita inginkan, bukan apa yang tidak kita inginkan. Nak, ibu ingin kamu paham dengan kondisi keuangan keluarga kita. Bukan dengan terus mengeyel.Fokus ke masa depan, bukan masa lalu. Evaluasi dilakukan saat mau memulai projek baru. Untuk memperbaiki projek ke depan. Jika anak melakukan kebaikan, ingatlah. Jika anak melakukan kesalah, tegur dan jangan diingat-ingat.                            

THE MAGIC WORD

Anak tidak memahami kata JANGANKeep Information Short and Simple(KISS)Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan. Nadanya harus benar. Jika mengkritik, sampaikan dengan tegas, tidak perlu sayang2an dulu. Misal,”Sayang, tidak boleh ya Nak..” Setelah mengkritik, baru sampaikan kalau kita melakukan hal tersebut karena sayang pada anak. Jangan mengelus sambil mengkritik. Nanti malah kritikan anda tidak digugu. Tidak ada perubahan mengindikasikan bahwa metode mengkritik anda kurang tepat. Pujian merupakan suatu hal yang membuat anak menjadi bangga.

Marah : disertai emosi. Tidak ada solusi dan kritikan yang membangun. Pitch tinggi, jantung berdebar.

Kritik : Ada logika yang jalan. Nak, ibu sudah bilang, bahwa ini harus diletakkan di tempatnya, Sekarang kamu lakukan perintah ibu.

Di akhir kritik, katakan kalo ibu sayang dan rangkul anak

Kendalikan suara dan gunakan suara ramahSeringlah memberi kejutan  menarik ke anak. Anak pulang sekolah beri kejutan. Contoh : Selamat! Kakak layak mendapatkan hadiah. Tiga langkah ke depan, serong ke kiri blablabla, ternyata sampai kulkas. Di kulkas ada eskrim. Diberi tulisan ANDA LAYAK MENDAPATKAN HADIAH KARENA TELAH MEMBERESKAN TEMPAT TIDUR SENDIRI ร  dipuji karena prosesnya.

CHANGE YOUR WORDS

Masalah = TANTANGAN

Susah = MENARIK

Saya tidak tahu = SAYA CARI DULU

Yaaah… = YESS!. Berfungsi untuk mengubah suasana. Kondisi yang mengecewakan dihadapi tetap dengan positif dan melihat sisi hikmahnya

KAIDAH 2C

Clear

Gunakan bahasa yang dimengerti komunikan, KISS

Clarify

Bila ragu, tanyakan. Jangan berasumsi. Jika ortu tidak sepaham, selesaikan di kamar. Bikin daftar kata yang tidak seharusnya muncul ke anak/di hadapan anak.

Untuk menghindarkan anak dengan pengaruh komunikasi negatif dari luar, bentengi dengan penguatan. Sehingga anak dapat CLEAR n CLARIFY dan memfilter kata-kata tersebut. Jika sudah terlanjur, SWITCH dengan kalimat-kalimat pengganti.

KOMPONEN KOMUNIKASI
Verbal : 7%
Non Verbal : 93% terdiri dari intonasi 38% dan bahasa tubuh 55%

FORMULA KOMUNIKASI

 High energyIntensity of Eye ContactTransfer of Feelings Strategy

Catatan kuliah ini berasal dari webinar tadi dan rekaman webinar tahu ajaran sebelumnya. Jika belum dapat mengikuti webinarnya, ibu dapat juga membaca bukunya, materi lengkap beserta studi kasusnya.

★ Sesi penjelasan :

Jika anak merengek, itu sebab karena kita juga sering mencontohkan nada bicara yang tidak tegas dan tidak KISS tadi.
Selalu berusaha mencontohkan respon yang kita harapkan muncul pada diri anak.

Anak yang suka berteriak = ibu yang suka berteriak

The magic word :
-KISS
- JELAS dalam memberikan Pujian dan kritikan
- Gunakan kata JANGAN pada proporsi yag tepat. Yaitu..
Semua BOLEH kecuali yang TIDAK BOLEH
BUKAN
Semua Tidak boleh kecuali yang boleh.
-kendalikan INTONASI SUARA dan gunakan SUARA RAMAH
-seringlah memberi kejutan menarik untuk anak (permainan, hadiah, dongeng, surprise

Miss komunikasi pada anak terjadi karena :
• PESAN YANG TIDAK SAMPAI kalimat yang di sampaikan terlalu panjang, berbelit-belit, bermakna bias, intonasi tidak menggambarkan maksud dsb.
• PENGALAMAN MASA LALU (TRACK RECORD) selalu tidak percaya pada yg di ajak bicara (anak, pasangan atau orangtua)

Dalam berbicara gunakan kaidah 2C

CLEAR
•gunakan bahasa yg di mengerti komunikan (yg di ajak bicara)
•Kiss (keep it simple and short)

CLARIFY
•Bila ragu, tanya!
(De, suka sayur yang ibu buat tadi?)
•Dont assume!
(Ibu kira adek suka sayur yang ibu buat tadi)

Ketika berbicara pada anak, CHOOSE YOUR WORD
MASALAH = TANTANGAN
SUSAH = MENARIK
SAYA TIDAK TAHU = SAYA CARI DULU
YAAAH! = YESSS!!

Contoh :
Anak : Bu, ini mainannya bermasalah nih bu
Ibu : Wah ini tantangan buat kita, mari kita selesaikan!

Anak : Aduh pelajarannya susah Bu
Ibu : Pelajarannya menarik ini dek, ayo kita pecahkan

Anak : Bu, buku aku dimana ya Bu?
(Bukan di jawab: mana ibu tahuuu, itu kan bukumu, cari dong, mana ibu ngerti ada dimana) tapi jawab dengan
IBU : lets find out, ayo kita cari de..

Ibu : De, besok ujian di sekolah yaa?
Anak : (ajarkan denga kalimat) yessss!!!

Contoh tadi malam, dari hasil konsitensi bu septi dalam 'jelas menggunakan bahasa dan intonasi juga mencontohkan respon pada anak' ada kalimat di mana saat anaknya jatuh/terluka, mereka tidak menangis menjerit2 tapi mengambil tindakan dengan tenang

"Bu, tadi aku jatuh. Sudah aku bersihkan lukanya, tapi darahnya ga mau berhenti. harus gimana ya Bu?"

Bu Septi : "oke sini Ibu lihat dan kita obati"

★ Sesi tanya jawab :

1. Apakah penyakit/sifat merupakan gen yang bisa menurun?

Bukan gennya tapi polanya sehingga yg di contohkan yang di ikuti akhirnya membentuk sifat atau pola yg sama

2. Bagaimana jika kita marah pada gangguan anak saat ada tamu?

Mohon maaf kepada tamu untuk izin sebentar memberitahu anak. Bukan membiarkan gangguannya berlangsung. Hal itu membuat kita tidak egois dan menjadi lebih bertanggungjawab

3. Anak bicara teriak2?

Biasanya dapat dr teman atau lingkungannya
Katakan aturannya pada anak:
'Di rumah ini tidak ada yg berhasil dengan teriak/merengek"
Jika anak semakin berteriak, semakin tak di anggap
Katakan saja "silahkan nangis saja, ibu tungguin"
Kalau sudah tersedu2 tanya "sudah selesai nangisnya?"
Kalau sudah, ajak berwudhu lalu bicara baik-baik

4. Memupuk pola komunikasi dengan bayi bagaimana caranya?

Bu septi dan suami percaya, bahwa anak2 tetaplah orang dewasa hanya saja dalam tubuh yg kecil. Ajak bicara terus sejak dalam kandungan, sejak lahir bayi sudah faham berkomunikasi

5. Bagaimana komunikasi dengan pra remaja?

Mereka sudah tdk mau di dikte lagi. Komunikasi seperti dengan teman, bukan interogasi. Mulai dengan kalimat "ibu percaya padamu"

6. Anak umur 2y1m sangat agresive memukul ketika bermain?

Itu normal. Dia merasa semua tdk boleh mengganggunya, saat merasa teganggu dia merespon denga agresive. Harus di latih bicaranya, kalo pukul di tempatnya (misal bantal) bertahap lama2 faham sendiri

7. Anak usia 3.5y susah mandi

Karena biasanya orangtua komunikasi untuk mandi selalu memotong kegiatan anak yang sedang asyik2nya. Usahakan mengatakan "5 menit lagi mandi ya dek" jadi anak bisa cooling down mempersiapkan dirinya sendiri

8. Tips untuk slalu semangat seperti busepti?

Do what you love. Bahagia. Dan selalu semangat karena semagat itu menular

9. Bagaimana bicara dengan anak yg aktif

Biasanya anak yg aktif dia tipe kinestetik, maka bicara dengannya harus mengikuti geraknya.. jika dia berlari kita ikut berlari

10. Bagaimana menyikapi anak introvert?

Jika tdk suka bicara, sediakan buku harian, kertas untuk meggambar atau merekam suaranya sendiri

11. Anak2 suka berantakin rumah

Ikut berantakin saja bu, sekalian mencontohkan membereskan mainan
Ibu jad semut besar membereskan yg besar2.. anak jd semut kecil membereskan yg kecil2

12. Bagimana membuat anak anteng/diam

Mereka bisa diam jika mengerjakan atau bermain hal yg sangat menarik minat mereka, berikan..

23. Ketika anak susah di atur

Berdoalah sebanyak2nya kepada Alloh SWT karena anak titipanNYA

sumber:  http://komunitasibubelajar.blogspot.co.id/2015/08/resume-webinar-bunda-sayang1.html?m=1

Revolusi Pengasuhan Anak

“Revolusi Pengasuhan Anak”

Tulisan ini merupakan adaptasi dari acara “Smart Parenting” di jaringan radio “Smart FM Network”, bersama Elly Risman dan Alina Mahamel. Selamat mereguk hikmah dari tulisan ini.

EllyRisman membuka talk show dengan mengutip pernyataan seorang aktris  pemeran utama sebuah film layar lebar yang  shooting di Mesir, tentang  harapan diri dan suaminya, yang  bukan saja  ingin cepat punya anak tapi sekaligus  punya banyak anak. Harapan dan impian yang sah sah saja, apalagi mereka yang baru memulai kehidupan rumah tangga.  Hanya saja, Elly mengingat kan bahwa masalahnya tidak sesederhana itu, “karena hidup adalah realitas”, tandasnya.

Kesadaran tentang Anak

Ada kesadaran dasar yang menurut Elly musti dibangun tentang anak. Pertama, anak bukan milik ayah ibunya. Dia dititipkan oleh Sang maha Pencipta, untuk jangka waktu sesuka suka yang punya. Silahkan menikmati! Konsekuensinya, jangan sembarangan memperlakukannya!

Kedua, sadari juga konsekuensinya: hati-hati! Jangan mendapat anak dalam keadaan bagus, namun saat ‘dikembalikan’, pulang dalam keadaan bonyok /rusak /cedera. Semua akan ditanya oleh Pemilik sesungguhnya! Maka, rasa sayang pun harus sekedarnya, tidak melebihi yang memilikinya.

Ketiga, oleh sebab itu, ada aturan mengasuhnya, dan hal itu menurut Elly, sudah ada dalam kitab suci kita masing masing, sebagai panduan dari Pemiliknya!  Ikuti saja itu.

Keempat, ikuti kaidah cara otak bekerja dalam mengasuh anak! Anak lelaki, sudah disiapkan secara fisik, otak kirinya, hormonalnya, psikologinya, untuk  kelak menjadi ayah. Anak wanita, dengan otak kanannya, segenap perangkatnya, akan menjadi ibu. Maka, bersiaplah menjadi orang tua yang lengkap! Ratusan milyar sel otak anak belum bersambung, dan pengasuhan orang tua lah yang turut menentukan penyambungan itu.

Kelima, jadilah orang tua yang kokoh. Buatlah rumusan tujuan pengasuhan, untuk menyepakati hal-hal yang penting antar suami dan istri untuk menentukan hal-hal prinsip dalam pengasuhan anak. Elly memberi contoh bagaimana ia dengan suaminya merumuskan, misalnya, kesehatan fisik, akhlak dan kepintaran anak sebagai hal-hal penting dalam pola pengasuhan, sumber rezeki harus yang halal dan thayyib  untuk menjadi asupan anak, rezeki darimana untuk biaya sekolahnya, dan seterusnya.

Oleh sebab itu, jika telah memiliki anak, Elly mewanti-wanti agar jangan pernah terlintas berpikir cerai. “Carilah titik temu, karena saat punya anak, itu artinya anda sudah dirahmati! “ tegas Elly. Jangan sampai terjadi, anak meratapi dirinya gara-gara perceraian. “Kalau tahu mau cerai, ngapain  musti kawin! Ngapain punya aku!” ungkap Elly menirukan keluhan seorang anak yang ortunya bercerai.

Setelah menyepakati itu semua, lakukan pengasuhan yang benar, yakni sesuai dengan aturan kitab suci masing-masing, dan sesuai cara kerja otak. Otak tidak bisa menerima bentakan, maka jangan membentak. Otak tak suka kalimat negative, maka jangan beri kalimat negative. Jelasnya, Elly menyarankan pola BBM dalam mengasuh anak. Apa itu? “Benar, Baik dan Menyenangkan”, paparnya saat ditanya Alina Mahamel. Mengapa perlu begitu? “Karena jika hati senang, otak akan bekerja lebih baik”, sambung Elly lagi.



Mengapa Perlu  melakukan Revolusi Pengasuhan?

Masalah ortu pun kini bertambah banyak. Kita perlu sadar bahwa masyarakat kini semakin lebih beragam. Dari pendidikan nasional, kini masuk pula gaya pendidikan international. Perubahan begitu cepat, serupa revolusi. Sehingga, diperlukan pula perubahan pola asuh yang revolusioner. “Contohnya, dulu tak dikenal 21st Century Skill,” ungkap Elly, “Kini hal-hal itu sudah dirumuskan,” tandasnya. Jadi, pola asuh yang lama tak akan mencukupi, saat berhadapan dengan hal-hal itu. Hal-hal yang menjadi tantangan itu, dapat diringkas sebagai berikut:

Satu, Elly menegaskan bahwa demokrasi dan reformasi telah memasuki rumah-rumah kita. Akibatnya, anak anak kini minta diberlakukan dengan bijak dan respek. Masyarakat semakin terbuka terhadap orang-orang suku dan bangsa lain, serta nilai makin beragam dan berubah. Ini harus diantisipasi.

Kedua, terjadi perubahan besar dalam keluarga. Keluarga besar menjadi keluarga batih atau inti (ayah, ibu, anak). Semua ada positif dan negatifnya, namun jelas nilai berubah total. Dari nilai ‘ayah mencari uang dan ibu menjaga anak’, kini berubah total. Anak bisa saja tinggal dengan nenek, pembantu, keluarga tiri atau bahkan dititipkan di TPA.

Ketiga, terjadi perkembangan teknologi yang luar biasa, membuat perubahan nilai dan moral  berubah juga sangat cepat. Tak lupa Elly menyisipkan cerita yang baru dialaminya sebelum on air, bagaimana seorang ibu menangis tersedu-sedu saat tahu tablet yang digunakan anaknya, ternyata sudah di installrapi konten pornografi! Banyak hal yang belum pantas dilihat dan dilakukan anak, bertebaran dengan leluasa! Anak bukan lagi korban, tapi bahkan pelaku itu sendiri.

Akibatnya, anak-anak seolah harus siap berubah terus menerus, dan siap di install  dengan kemampuan menangkal ekses buruk tehnologi. Elly mengingatkan, anak tak lagi cuma bisa dituntut, tapi harus memiliki karakter menghadapi perubahan yang sedang dan akan terjadi.



Bagaimana Menyiapkan Potensi Internal Menghadapi Itu Semua?

engan kedua orang tua yang bekerja, bagaimana menyiapkan sejumlah pihak ‘asing’ di rumah agar menghadapi hal-hal di atas? Menurut Elly, idealnya kita memilih dengan cermat siapa yang akan menjadi pengganti peran kita di rumah.  Memang tidak mudah, sehingga ketika tidak didapati, ada resiko yang kita bayarkan. Jadi, ketika melatih, katakanlah, baby sitter, anggap mereka bukan  sebagai orang bayaran kita, namun sebagai pengganti peran kita.

Diskusi berlanjut dengan menerima penelpon. Pak Sofyan dari Balikpapan bertanya perihal pola pendidikan yang terlanjur salah dan bagaimana upaya memperbaikinya. Jawaban Elly, pak Sofyan tidak sendiri, namun selalu ada harapan. Yang penting, saat sudah muncul kesadaran, 50% persoalan sudah selesai.

Saran Elly, ambil kertas lalu bagi dua. Baik suami mau pun istri, tulislah hal-hal positif di sisi kanan dan sisi negative di sisi kiri dari masing-masing anak. Jumlahkan dan dari sana kita tahu berapa banyak hal positif dan berapa banyak hal negative. Jadi, saat tahu hal positif pada anak, cari dua hal yang paling signifikan dan masih bisa ditingkatkan. “Syukuri itu”, pesan Elly. Saat melihat daftar negative, diskusikan  dengan pasangan kita “mengapa segini banyak hal negatif ya?”

Lebih jauh, cocokkan daftar kita dengan daftar yang dibuat oleh pasangan kita. Lalu, dalam situasi yang enak (baca: nyaman), bahas apa yang menyebabkan hal negative itu dapat terjadi. Dari, misalnya, 13 daftar negatif, ambil dua saja yang perlu diperbaiki dalam 3 bulan ke depan. Lalu, ajak anak membahas daftar itu dan langkah pertama adalah ortu meminta maaf! Ya, hal ini mengingat selama ini orang tua cenderung merasa cukup dalam memenuhi berbagai keperluan anak. Sementara, kriteria cukup tidaknya waktu kita bagi anak, misalnya, selayaknya dilihat dari kriteria ‘apakah kita ada saat anak membutuhkan kita’.

Lalu katakan bahwa kita bangga dengan anak kita sambil menyebutkan hal-hal positif yang ada dalam daftar. “Jadi kamu banyak positifnya, nak. Menurut kamu, mana yang perlu kamu tingkatkan?”  Lebih jauh ketika ingin bicara soal hal negatif yang ingin diperbaiki, katakan, “begini sayang/cinta/nak. Kenapa papa sama mama merasa perlu perbaiki hal yang kamu anggap kurang, ini semua, karena kamu adalah hadiah terindah dari Allah bagi kami. Nggak tahu nak, siapa yang duluan. Ayah atau kamu, karena kita masing-masing tidak memiliki diri kita sendiri. Kamu dulu lucu sekali. (Sambil bilang begitu, kalau perlu siapkan foto-foto masa kecilnya yang lucu-lucu itu). Kamu sempurna, dan ayah sama ibu tak ingin kamu kelak kembali pada Allah dalam keadaan lebih buruk. Jadi bisa nak, kita bekerja sama?”

Jadi, tegas Elly, harus ada kata-kata yang ‘terasa’ di hati anak. “Ini hanya sedikit saja koq nak”, sambung Elly sambil menambahkan, meski sebenarnya kesalahan anak kita, besar sekali! Intinya, sentuh hati anak kita, karena dalam pengasuhan, diperlukan adanya cinta dan kondisi jiwa kita yang matang untuk melakukan nurturing atau pengasuhan.

Telepon selanjutnya datang dari bu Mona di Tangerang. Memiliki 3 anak, ia bertanya soal kapan memberi peringatan dan hukuman, serta peringatan seperti apa yang perlu dilakukan terhadap anak-anak tersebut jika bertengkar.

Elly menerangkan bahwa tadi telah diungkap soal pengasuhan haruslah BENAR, dan perlu diterapkan dalam bentuk, ada cara bicara benar, tidak boleh keras, sesuai usia anak, tidak kepanjangan, dan semua ada kaidahnya di kitab suci. Jelas tertulis disana, ada perintah. Kedua, perlu disadari bahwa sewaktu kita lahir, ada ratusan milyar sel yang belum berhubungan. Mengutip pendapat ahli, Elly mengungkapkan bahwa gizi yang baik dan rangsangan yang diterima bayi, akan membuat pusat-pusat pendengaran, penglihatan dan  pemikiran, akan saling terkoneksi sejak usia 7 tahun. Hanya saja, sambungannya belum cukup kuat. Itu sebabnya, misalnya, dalam ajaran Islam, anak diperintah untuk sholat saat umur 7 tahun dan boleh dipukul saat usia 10 tahun belum mau sholat.

Tapi, memukul seperti apa? “Ada aturannya”, ujar Elly, “Antara lain hanya boleh di kaki, dan melapisi kain pada bagian yang akan dipukul. Kepala dan wajah, tidak boleh. Ini semua, ada kaitannya dengan menjawab pertanyaan bu Mona tadi. Jadi, saat menjawab mana yang musti dibela saat anak bertengkar, “memang tidak perlu ada yang dibela,” tukas Elly, “bagaimana mau membela jika persoalannya tidak jelas?” lanjutnya. Maka saran Elly, orang tua perlu membuat aturan di rumah sejelas mungkin. Dengan anak usia 7 dan 11 tahun, orang tua perlu duduk bersama membuat aturan, disepakati bersama, dan tentukan konsekuensinya. Konsekuensinya, belum tentu hukuman, belum tentu pukulan. Jadi, kalau bisa ajak anak menentukan juga konsekuensinya sendiri. jadi, mereka rela. Tentu saja, ada aturan yang bisa diatur tanpa kesepakatan bersama (bangun pagi, bereskan tempat tidur, sholat Subuh, pergi pamit, pulang bilang, dan seterusnya).

Jadi, Elly mencontohkan saat anak berlari-lari di rumah. Maka, sesuai aturan yang sudah disepakati, teguran bisa lebih ‘elegan’  tanpa harus tarik urat. “Adin, janjinya gimana nak?”. Bagaimana dengan anak yang bertengkar? Saran Elly bagi para ibu, “matikan kompor, matikan HP, dudukkan kedua anak”, ujarnya. Tanyakan siapa yang memulai, minta mereka ceritakan kronologi, satu per satu. Dari sana sebagai orang tua, kita sudah bisa menentukan siapa yang salah. Yang penting, tegas Elly, jangan minta anak meminta maaf saat itu juga! Bagaimana mungkin meminta maaf dengan tulus, sementara hati masih panas? Jadi, bagaimana?

Alih-alih menyalahkan, Elly menganjurkan untuk bertanya seperti ini, “Jadi sekarang bagaimana baiknya?” Anak-anak dijamin akan terdiam. Lanjutkan dengan “Apa yang harus dilakukan? Kalau adek salah, adek harus apa dek?” Jadi, jangan gunakan kalimat perintah, dan biarkan anak berfikir, sambil Elly menambahkan bahwa tehnik tehnik penggunaan kalimat bertanya itu akan dibahas pada edisi minggu yang akan datang.

Program “Smart Parenting” malam itu ditutup dengan pernyataan berupa summary dari Elly Risman.  Sebagai Orang tua, kita perlu bersikukuh pada pola dasar-dasar pengasuhan, bahwa anak bukan milik kita, dan kita sudah dilengkapi dengan perlengkapan ke arah itu. Gunakan perlengkapan itu dengan sebaik-baiknya, jika kurang tajam, maka asahlah.  Ada aturan itu semua dalam kitab suci masing-masing, maka buka dan bacalah. Cari itu karena kita harus mengasuh dengan benar, jelas patokannya. Dan mengasuh dengan baik, yaitu mengikuti kaidah otaknya. Otak tak suka kalimat negative, tak suka didikte, sehingga jalan fikiran otak jadi tak aktif, padahal anak kita akan hidup dalam perubahan yang terus menerus dan harus beradaptasi untuk itu.

Jadilah orang tua yang kokoh, dan menerapkan pola pengasuhan yang benar, baik dan menyenangkan spy menghasilkan anak-anak yang tangguh cerdas, dan serentetan harapan lainnya, yang ujungnya adalah, BAHAGIA. Syarat utamanya? “Saya dan Anda, siap berubah,” tukas Elly mengakhiri acara “Smart Parenting” malam itu.



==(())==

Acara “Smart Parenting”  adalah hasil kerjasama antara radio Smart FM Network dan yayasan “Kita dan Buah Hati”. Mengudara setiap Rabu pk. 19.00 WIB serentak di Smart FM Network (Medan, Palembang, Jakarta, Surabaya, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar dan Manado), sertawww.radiosmartfm.com serta Indovision channel 507. Disiarkan ulang pada Minggu, pk. 10.00 WIB di 95,9 Smart FM Jakarta.

   
sumber: https://teguhiperdana.wordpress.com/2014/01/16/revolusi-pengasuhan-anak/